Kamis, 15 Mei 2008

Apa yang Sudah dilakukan?

oleh; Saiful Amri
Tanggal 17 Agustus kemarin seluruh rakyat Indonesia baru saja memperringati hari proklamasi kemerdekaan Indonesia, merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Sudah 62 tahun lamanya Indonesia merdeka, terbebas dari belenggu penjajah. Akan tetapai apakah memang bangsa kiata sudah benar-benar “merdeka” sepenuhnya. Merdeka tanpa adanya driskiminasi, merdeka tanpa adanya penindasan, merdeka tanpa adanya perampasan hak.
Meski telah sekian tahun bangsa kita merdeka, akan tetapi masih banyak kita jumpai rakyat kecil yang dirampas hak-haknya, diskriminasi terus saja terjadi disana sini.
Di usia Indonesia yang telah mencapai 62 tahun ini, kita semua berharap agar Indonesia bisa lebih baik dari yang lalu. Bisa mengubah mindset.... bangsa Indonesia kearah yang baik. Tidak saling mendiskriminasi, tidak saling merampas hak sesama. Sudah sepuluh tahun lalu bangsa Indonesia pernah terpuruk oleh krisis moneter. Dimana barang-barang melambung tinggi dan harga sembako yang makin mencekik rakyat kecil. Kelaparan terjadi dimana-mana, anak putus sekolah meningkat, pengangguran semakin membludak (bertambah) dan efeknya kejahatan semakin merajalela. Krisis moneter sepuluh tahun silam cukup menjadi pelajaran buat para pemimpin bangsa kita untuk merubah Indonesia kedepan agar lebih baik.
Di era sekarang dimana arus globalisasi yang semakin pesat tanpa mengenal batas, jika kita tidak dapat belajar dari kegagalan yang lalu, tidak hanya krisis moneter yang akan menimpa bangsa kita lagi, melainkan akan timbul dan merebaknya krisis moral yang sekarang sudah banyak terjadi kalangan rakyat Indonesia.
Dengan semakin derasnya arus globalisasi yang kian menggerus nilai-nilai budaya bangsa Indonesia, kita harus bisa pandai-pandai menyaring budaya-budaya luar yang masuk agar kita tidak terbawa oleh arus modernisasi atau globalisasi yang akan melunturkan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Dengan semangat jiwa nasionalisme, Indonesia akan bangkit menjadi bangsa yang kokoh, maju, aman dan tentram.
Maraknya berbagai isu sparatisme, terorisme, maupun pemekaran wilayah yang sekarang lagi ramai diberitakan, itu merupakan luapan rasa kekecewaan mereka terhadap para pemimpin bangsa yang dirasa kurang mampu untuk memimpin negara. Sehingga rasa ingin memisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), rasa ingin berontak muncul. Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Indonesia kemarin pun diwarnai oleh aksi penurunan paksa bendera merah putih oleh sekolompok orang yang tidak bertanggung jawab. Sebuah tindakan yang merupakan penghinaan bagi NKRI. Pemerintah harus menindak tegas orang-orang yang hanya ingin membuat resah bangasa ini.
(tulisan ini pernah dimuat di koran KOMPAS Jateng, edisi 24 Agustus 2007 dalam rubrik FORUM AKADEMIA)

Tidak ada komentar: