Selasa, 27 Mei 2008

Mengemas Sebuah Perbedaan

Tiga setengah abad silam negeri kita pernah dijajah oleh Belanda lalu tiga setengah tahun dijajah oleh Jepang. Rakyat terus ditindas, dijadikan pekerja paksa, dijadikan budak oleh kaum penjajah. Hingga akhirnya, dengan segenap semangat dan perjuangan rakyat Indonesia, pada tahun 1945 Indonesia, dapat merdeka, dapat terbebas dari tangan penjajah. Tidak semudah membalikkan tangan untuk meraih kemerdekaan, perlu perjuangan yang keras dan kerelaan berkorban untuk mendapatkan kemerdekaann. Maka, selayaknya kita wajib menghargai jasa-jasa pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raganya demi meraih kemerdekaan bagi bangsa kita tercinta, Indonesia.
Perjuangan para pahlawan untuk merebut kemerdekaan memang sudah usai, tetapi bukan berarti kita harus berhenti berjuang. Kita harus mengisi kemerdekaan dengan meneruskan semangat para pahlawan yang telah rela berkorban jiwa dan raganya untuk bangsa Indonesia, bangsa yang gemah ripah loh jinawe, bangsa yang multikultural. Jiwa nasiaonalime harus kita tanamkan pada diri kita. Membangkitkan sebuah sikap yang mencintai negaranya sendiri, tidak rela jika negaranya direbut atau dijajah oleh negara lain. Sikap nasionalisme tidak perlu hanya dengan ucapan semata, melainkan harus direalisasikan dengan tindakan yang nyata.
Pada kasus Ambalat beberapa waktu lalu, demi mempertahankan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), banyak dari kalangan warga sipil yang mendaftarkan dirinya menjadi relawan. Itu memperlihatkan bahwa rasa nasioanalisme tertanam pada rakyat Indonesia. Ketika bangsa kita di ancam oleh pihak lain, maka bukan hanya TNI dan ABRI yang bertangggung jawab, melainkan merupakan tanggung jawab seluruh warga Indonesia tanpa membeda-bedakan agama, suku dan ras.

Pada Piala Asia (Asian Cup) 2007 lalu, kita bisa lihat bagaimana antusias dan dukungan dari warga Indonesia yang selalu men-suport Tim Nasional (Timnas) Indonesia. Meskipun akhirnya Indonesia tidak menjadi juara tapi tetap tidak menyurutkan minat warga Indonesia untuk selalu mensuport agar terus berusaha dan terus berlatih.
Untuk membangkitkan rasa nasionalisme tidaklah harus menunggu jika negeri kita diusik negara lain, tidak harus menunggu ajang olah raga melawan negara lain. Rasa nasionalisme setiapa saat harus kita jaga dalam diri kita. Menghargai sesama, menghormati, tidak saling membeda-bedakan pun juga merupakan sikap nasionalisme.
Tanggal 17 Agustus kemarin, kita baru saja memperingati hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Semua berkumpul, hormat kepada “Sang Saka” yang berkibar diujung tiang tertinggi. Semua berkumpul dan memperingatinya tanpa membedakan dari mana latar mereka masing-masing. Indonesia terkenal dengan bangsa yang memiliki berbagai macam perbedaan. Baik itu perbedaan suku, agama, ras maupun kebudayaan. Sebuah anugerah dari tuhan yang tidak tidak dimiliki oleh negara manapun. Dengan perbedaan tersebut lantas tidak menjadikan bangsa Indonesia menjadi terpecah. Justru bangsa kita akan menjadi bangsa yang maju, kokoh, aman dan tentram jika kita bisa mengemas perbedaan itu menjadi sebuah kesatuan yang saling mengisi, sebuah kesatuan yang saling memahami, saling menghormati. Tidak selalu membeda-bedakan antar sesama, tidak selalu mengkotak-kotakkan, karena kita semua adalah sama, sama sebagai warga NKRI. Perbedaan merupakan anugerah dari tuhan yang patut kita syukuri dan cermati, bukan untuk dijadikan pertikaian atau permusuhan.

Tidak ada komentar: