oleh; Saiful Amri (amrie)
Hubungan bilateral antara Indonesia dengan Malaysia, lagi-lagi terusik. Setelah waktu lalu Indonesia dan Malaysia sempat tegang mengenai perseteruan masalah batas territorial blok Ambalat, kemudian digemparkan lagi oleh kasus Ceriyati -Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Brebes, yang mencoba melarikan diri dengan cara melompat melalui jendela apartemen dari ketinggian lima belas lantai menggunakan sambungan-sambungan kain-, kemudian baru kemarin (25/8), Sumarmi, TKI asal Ngawi, ditemukan tewas gantung diri dirumah majikanya, Malaysia (Kompas 30/8/2007).
Belum sempat.... reda mengenai kasus penganiyaan TKI oleh sang majikan di Negeri Jiran ini, muncul lagi permasalahan baru. Kali ini Indonesia di gegerkan oleh kasus pemukulan polisi Malaysia pada wasit Karateka Indonesia, Donald Luther Kolopita.
Setelah kasus itu mencuat dan ramai diberitakan oleh banyak media, di Indonesia berbagai kalangan menggelar demonstrasi mengutuk keras tindakan Malaysia tersebut, dan mendesak segera kepada pihak Malaysia agar meminta maaf kepada Indonesia. Memang sudah selayaknya aksi-aksi tersebut dilakukan, sudah selayaknya sebagai warga Indonesia turut andil untuk membantu sesama warga Negara.
Tapi apakah hanya dengan menuntut Malaysia untuk meminta maaf, hanya dengan melakukan tindakan sabotase, melakukan sweeping semua permasalahan akan selesai?. Yang kita perlukan bukanlah pernyataan “maaf” dari malaysia, namun apakah pernyataan “maaf” itu benar-benar dapat diaplikasikan dengan tindakan real. Meski akhirnya Perdana Menteri Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi sudah meminta maaf kepada presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) melalui telepon pribadi, namun pernyataan maaf tersebut terkesan hanya terpaksa, hanya sekedar untuk mensterilkan suasana saja. Toh nyatanya banyak TKI yang bekerja, yang hanya untuk mencari sesuap nasi di Malaysia banyak mengalami tindak kekerasan.
Pemerintah seharusnya dapat melihat masalah ini sebagai masalah yang serius, tidak hanya memandang sebagai “angin lewat” yang dapat hilang dengan sendirinya. Jika pemerintah menangani masalah kekerasan atau penganiyaan terhadap para TKI saja tidak becus, maka kasus kekerasan-kekerasan lain yang serupa dapat dengan mudah terjadi pada warga negara kita, seperti apa yang dialami oleh wasit Karateka Indonesia tesebut.
Banyak kasus antara Indonesia dan Malaysia yang belum terselesaikan. Kasus TKI yang bertahu-tahun menumpuk tidak ada penyelesaiannya, yang hanya dijadikan sebagai wacana belaka tidak ada penanganan yang serius, banyak dari warga Indonesia yang mencari Suaka di negeri lain karena merasa dirinya tidak aman hidup di negaranya sendiri.
Sudah saatnya bukan untuk saling tuding sana-sini hanya untuk menyalahkan, hanya untuk mencari kambing hitam. Pemerintah harus lebih dapat memperbaiki kinerjanya, harus dapat melindungi hak-hak warga negaranya, harus dapat lebih mensejahterkan rakyatnya jika kita tidak ingin citra Indonesia dipandang “buruk” maupun dengan mudah dapat diremehkan oleh bangsa lain. Karena Indonesia merupakan bangsa yang besar, bangsa yang bermartabat.
Kamis, 15 Mei 2008
Jangan Pandang sebagai "angin lewat"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
Waah....gitu ya!
Jangan-jangan Indonesia kali emang bangsa "banci". Yang tegas dong!
Kalau nanti begitu terus, piye jal?
Posting Komentar